Laki-Laki dan Perempuan dalam Camfrog
(Perspektif Gender)
Abstract
This paper aims to study the interaction of male and female in camfrog. Camfrog is one of the internet-chatting providers in which users can communicate each other virtually. However, having the camera-streaming, users tend to exploit that provider and make use of it as a means of expressing sexual desires. By using the gender perspective, the writer focuses on how female and male express their sexual desires in an internet-chatting provider. The result shows that female becomes the male’s sexual object. In here, gender-biased is clearly seen; in that, male-user takes advantage from the rooms to dominate the female-user on the one hand, and the female-user also willingly gives their bodies to be the male’s sexual object. The writer finds out the symbolic sexual harassment in this interactive media by which all user expresses vulgarity, obscenity, and eroticism.
Keyword: camfrog, female, male, vulgar, obscene, sexual, dominate, internet.
Ilustrasi
“Sekarang saya berada di Yogyakarta dalam rangka studi Kajian Budaya dan Media. Suatu waktu seorang sahabat lama dari kampung kelahiranku (kampung kecil di Dalu-dalu, Kecamatan Tambusai, Rokan Hulu, Riau), melalui telepon cellular bercerita padaku tentang keasyikannya yang baru. Keasyikannya itu berupa ketagihan mengakses camfrog, yang dapat melihat perempuan dengan berbagai aksi erotis bahkan sampai tanpa busana. Hampir tidak percaya dengan apa yang disampaikan sahabat saya itu, tapi diapun mengeluh karena amat sulit menghindari kebiasaannya itu”.
1. Latar Belakang dan Masalah
Kehadiran media komunikasi massa sejatinya untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Satu di antara media massa itu adalah internet dengan berbagai program layanannya. Program layanan dalam internet bahkan memberikan ruang untuk berkomunikasi/konikasi secara langsung antara dua atau beberapa orang dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda melalui program pengirim pesan, istilah lainnya disebut dengan chatting. Sebagaima yang diungkapkan oleh Ashadi, fungsi media massa, menyampaikan informasi baik bersifat faktual maupun fiksional, untuk memenuhi kepentingan fragmatis sosial dan psikis warga masyarakat. Fungsi ini bersifat imperatif sebagai kewajiban dalam memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi kebenaran (truth) dalam konteks kehidupan publik berdimensi politik, ekonomi dan sosial, dan informasi estetis untuk mengisi kehidupan publik secara kultural. (Diktat Matakuliah KBM/UGM Institusionalisasi dan Format Media).
Adalah camfrog salah satu layanan chatting populer untuk umum di antara layanan chatting lainnya seperti pidgin (gaim), trilian, kopete, yahoo! messenger(YM), MSN messenger dan windows live messenger. Pengelola layanan chatting biasanya membentuk ruang pertukaran komunikasi untuk beberapa orang sehingga membentuk suatu komunitas. Selain itu disediakan pula ruang berkomunikasi yang sifatnya pribadi (privacy) yang tidak dapat diakses oleh pengguna (user) lainnya. Dalam ruangan inilah user, baik laki-laki maupun perempuan berkomunikasi saling menyampaikan pesan (informasi) tanpa batas. Yang dimaksud dengan komunikasi tanpa batas yaitu apapun yang ingin dibicarakan dan apapun yang ingin diperlihatkan oleh user yang satu pada user yang lain dapat saja terjadi seperti pembicaraan ekonomi, politik, saling menghujad, seks (bentuk tubuh), pornografi/porno aksi dan lain-lain.
Dalam tulisan ini penulis memfokuskan pembahasan terhadap layanan chatting yang dinamakan dengan camfrog dalam hubungannya dengan perempuan dan seksualitas (pornografi/pornoaksi). Ketertarikan terhadap camfrog karena program layanannya memungkinkan user lebih ekspresif dalam berkomunikasi dibandingkan layanan chatting lainnya.
Apa itu camfrog? Siapa saja yang menggunakan layanan camfrog? Seperti yahoo messenger, camfrog adalah perangkat lunak pengirim pesan instant (chatting) yang memungkinkan para penggunanya (user) untuk saling berinteraksi satu sama lain melalui pesan yang dapat berupa text, video streaming, audio streaming, dan/atau juga voip (telepon internet). Fungsi utamanya tentulah untuk chatting. Perbedaan yang mendasar dengan program chatting lainnya yaitu user dapat melihat cam dari user lainnya tanpa meminta izin.
Kelebihan camfrog diantaranya untuk 1 (satu) room (channel) bisa menampung sampai dengan 1000 user, bandingkan dengan YM yg hanya bisa nampung sekitar 50 orang saja. Jika menggunakan camfrog pro ( full version ) dapat membuka banyak cam user dalam satu waktu, dan bisa pula mengubah layar ukuran video menjadi lebih besar, bisa menambahkan teks pada layar video, mampu mencari lokasi dimana pengguna yang telah ditambah di-add contact, bisa mengirim file ke pengguna pro dan bisa melakukan privacy cam.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, pengguna layanan camfrog tidak ada batasan jenis kelamin maupun usia. Hal ini disebabkan user dapat mengaksesnya melalui ruangan privace untuk dikonsumsi publik.
Berdasarkan latar belakang dan ilustrasi di atas penulis merumuskan masalah yaitu bagaimakah perilaku laki-laki dan perempuan dalam room layanan camfrog?
2. Tujuan
Kajian ini bertujuan untuk melihat perilaku laki-laki terhadap perempuan dan respon perempuan terhadap perilaku laki-laki dalam room camfrog. Selain itu bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya nilai pornoaksi/pornografi oleh pengguna room camfrog.
3. Sumber dan Metode Pengumpulan Data
Data yang ditelaah dalam kajian ini berupa teks, video streaming dan audio streaming. Data yang diambil berupa data layanan camfrog, room Asia 18+, khususnya layanan camfrog Indonesia. Untuk mendapatkan data, penulis melakukan partisipasi langsung dalam arti terlibat secara langsung menjelajah beberapa sub room camfrog Indonesia.
4. Pembahasan
Laki-laki dan perempuan dalam berbagai usia dengan mudah mengakses dan masuk ke room yang disediakan program camfrog. Layanan program camfrog untuk Indonesia dengan berbagai sub room dapat diakses melalui Asia 18+ (delapan belas tahun ke atas). Selain Indonesia, dalam room Asia 18+ terdapat layanan sub room untuk negara-negara seperti China, Thailand, dan India (negara-negara Asia). Pengelola layanan sub room camfrog di Indonesia yaitu: IoI_INDONESIA_GLOBAL_FREE_SHOW_IoI, Indonesia_18_X_Show,XoX_INDONESIA_PARTY_PLUS_XoX, XxOx_ Indonesia_City _China_Town_xOxX, xOxX Persahabatan_Indonesia_XxOx, XxOx_Indonesia _City
_xOxX, oXo_ROOM PEREMPUAN_INDONESIA_oXo, XoX_INDONESIA_ROOM_XoX,
IoI_INDONESIA_KALIMANTAN_GLOBAL_IoI, lol_R00M_9ILA_9ILAAN_lol, Xox_X _INDOSIA_ST4RBLUE_X_xoX, Indonesian_Online_Community , 0x0_INDONESIA_X
_LING-LING_0x0, dan XX_indonesian_mate_XX. Pelayanan camfrog, online disediakan 24 jam. Para penghuni room dipandu oleh operator (istilah lainnya DJ = disc jokey) yang bertugas sebagai operator musik, menyapa user saat berada dalam room serta mengontrol aturan main dalam sub room yang dikelolanya. Secara keseluruhan penghuni room didominasi oleh laki-laki. Namun anehnya perempuan sangat berperan dalam menetukan jumlah penghuni setiap room. Semakin banyak jumlah penghuni perempuan yang mengaktifkan web cam-nya maka semakin banyak pula pesan-pesan yang disampaikan dalam room tersebut. Berikut ini akan dipaparkan perilaku laki-laki dan respon perempuan penghuni room layanan program camfrog Indonesia.
Sebagai partisipan, penulis menggunakan nickname “dordordor” untuk menjelajah layanan camfrog Indonesia. Begitu menyetujui peraturan untuk join room diterima, muncullah running teks percakapan sesama laki-laki dan teks yang ditujukan pada perempuan dalam room tersebut. Teks-teks yang muncul itu seperti dalam sub room ,XoX_INDONESIA_PARTY_PLUS_XoX:
jengri_green (1:13:56) : MANA YG SHOWW SOB........
fajar_krenzz (1:14:18) : ahhh meing gak asikk tauuuuuuuuuuu
BIMBIM_09 (1:14:47) : piye to? kok lum dibuka...
I_GEDE_ANUNE (1:15:27) : AKHIRNYA MEING SHOW JUGA BRO
sub room Indonesia City Plus XoX Room:
wishnu : AYO DJ TEMENIN NUR BUKA BAJUNYA
chandratoba : yulia21_ gwe tgu lo...
15012123696 :
rhombenk021 : I LOVE NUR......... HOT LG NUR
PrOMoTIon_BOT : (A34) (C22) WELCOME TO XxOx_Indonesia_City_Plus_xOxX (Add) ENJOY & HAVE A NICE CHAT (C22) (A34)
FREEDOM_BOT : AIDS
fly_6 : yulia21__, selam
donito : Nurbaeti, nenen kamu jelek ya makanya ngga berani buka baju kan
MieRebusKuah : Nurbaeti, POSE APAAN TUH
flashmen76 : NURBAETI MAU BUKA KALO N7Y JUGA BUKA
nenenk : Nurbaeti, hai liatin donk biar seru
kanu_ndo : yulia21__, ko’ tidur yulia??????????
UdelkuBodongSeparo : N7Y ………….. KALO GITU NGGAK ASYIK MENDINGAN LO DIEM AJA … APA MAKAN LAGI … BIAR GENDUT …
yusni67 : N7Y NI BUATMU F) F) F) F)
(Banyak teks dengan bahasa sangat vulgar, karena merasa tidak pantas maka penulis tidak menyertakannya sebagai contoh).
Melihat kenyataan atas ungkapan teks-teks di atas bahwasanya laki-laki telah memandang perempuan sebagai pemuas hasrat biologis. User room camfrog kaum laki-laki memandang perempuan sebagai sesuatu yang rendah, terjajah dan lemah. Jika perempuan yang diminta untuk berperilaku syur, erotis tidak mengabulkannya maka perempuan itu mereka caci dengan kata-kata penghinaan, seperti: jelek, dasar gemuk, takut kelihatan karena buah dada besar sebelah dan lain-lain.
Rosaldo mengatakan dalam relasi laki-laki dan perempuan, hegemoni yang terjadi bisa dianalisis pada dua arus utama, yaitu ideologi patriarkat dan ideologi pallocentrist. Dalam masyarakat patriarkat, perempuan selalu berada pada posisi yang tersubordinasi dalam kehidupan seksual. Perempuan harus memenuhi segala macam standar yang ditentukan oleh laki-laki (atau oleh struktur yang menguntungkan laki-laki). Nilai standar itu merupakan realitas objektif yang meminta kepatuhan-kepatuhan sosial perempuan tidak terlepas dari ideologi nature dan culture atau objek dan subjek, dan perempuan ditempatkan sebagai objek dalam dunia laki-laki (culture) (Rosaldo, 1983: 27-57). Perlakuan laki-laki penghuni room memandang perempuan sebagai pemuas hasrat biologis dan dapat begitu saja diperintah suatu pandangan sebagai akibat ideologi patriakat yang ditanamkan dalam keluarga.
Perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama dalam menggunakan layanan camfrog. Dalam list penghuni camfrog (terdapat disebelah kiri scren), status penghuni hanya dibagi menjadi dua yaitu pengguna (user) dan operator. Kemudian melalui simbol ada pembeda user laki-laki dan perempuan. Simbol pembeda ini diperlukan untuk memudahkan sesama user dalam menentukan user laki-laki atau perempuan.
Kesamaan kesempatan antara perempuan dan laki-laki dalam menggunakan layanan camfrog tidak serta merta menjadikan perempuan setara dalam merespon teks-teks dalam room camfrog. Kenyataannya penghuni camfrog perempuan yang mengaktifkan cam tetap saja menjadi objek tontonan laki-laki. Jika perempuan dalam cam terlihat seksi, maka penghuni room laki-laki berlomba-lomba melakukan bujuk rayu, meminta perempuan tersebut untuk show (baca erotis, pornografi dan pornoaksi). Perilaku user laki-laki meminta perempuan melakukan perilaku seks dengan ungkapan vulgar di ruang privae untuk ditampilkan melalui cam yang dikonsumsi publik dapat digolongkan dalam kekesan simbolik.
Kehadiran materi erotika melalui media yang tergolong pornografi dan porno aksi dapat dilihat dari sudut pandang materi pesan/informasi, yaitu berupa tindakan tidak senonoh seperti manusia telanjang dan penggambaran tindakan seksual. Hal lainnya ditujukan kepada efek yang ditimbulkan oleh materi pornografi, berupa dorongan hasrat birahi yang muncul dalam diri pengguna sebagai effek. Terutama sisi yang menyangkut effek sangat sulit dalam pembuktiannya. Karena itu kalangan media menafsirkan dengan bertumpu pada penampilan manusia telanjang, dengan pendefinisian derajatnya, seperti penampilan frontal yang menunjukkan alat kelamin secara jelas, sampai gaya yang hanya asosiatif terhadap tubuh telanjang. Sistem sekuriti media dalam hal ini internet antara lain menetapkan derajat jumlah yang mengakses (rating) dari informasi yang mencakup bahasa, ketelanjangan, tindakan seksual, dan kekerasan. (Holiday, 1999; Rohde, 1999).
Dari data yang dikumpulkan rata-rata perempuan merespon 1 (satu) kali dari 30 (tiga puluh) teks-teks yang disampaikan laki-laki kepada seorang user perempuan. Respon yang dilakukan perempuan melalui teks tidak merupakan perlawanan terhadap rayuan, bujukan, atau kata-kata cabul dan cacian laki-laki, melainkan hanya dengan kata-kata seperti, “Capek”, “Minum dulu ah”, “Gggak mau”, atau “Sabar”. Suatu hal yang menarik ternyata user perempuan lebih memilih merespon perlakuan user laki-laki dengan aksi melalui cam seperti menjulurkan lidah, mencibir, senyum, melotot, muka cemberut atau meresponnya seperti: seolah mau membuka baju, atau seolah-olah mau memeloroti baju tidur.
Tindakan user perempuan seperti itu semakin membuat user laki-laki secara bersama-sama menyerang untuk menggoda, membujuk, dan memuji-muji dengan menyebut seksi, cantik, dan manis, terkadang melakukan voting untuk mendukung user perempuan agar melakukan show. Akibatnya, secara sadar atau tidak sadar user perempuanpun melakukan show mempertontonkan bagian-bagian lekuk tubuhnya, bahkan kebanyakan user perempuan melakukan aksi membangkitkan birahi (erotic), tarian telanjang (stripttease) sampai melakukan masturbasi tanpa atau dengan alat bantu.
Effek aksi user perempuan melalui cam 40 (empat puluh) orang user laki-laki melakukan onani (seks menyimpang). Realitasnya user perempuan dan laki-laki sama-sama melakukan penyimpangan seks. Perbedaannya yaitu user laki-laki terangsang hasrat biologisnya karena melihat aksi erotis perempuan, sedangkan user perempuan melakukan aksi erotis dan penyimpangan seks relatif tanpa pengaruh menonton aksi porno laki-laki. Dalam hal ini user perempuan memang dengan suka rela mempertontonkan tubuhnya pada user laki-laki dan sesama user perempuan. Sebab user perempuan melakukan aksi pornografi itu tidak ada interes lain seperti kepentingan materil melainkan hanya untuk kepuasan bathin semata.
Apa yang dilakukan oleh user sub camfrog dengan berbagai ungkapan melalui teks dan aksinya di cam sesungguhnya perlakuan yang sengaja saling merangsan hasrat biologis kedua belah pihak dalam public sphere yang disediakan camfrog. Sebagaimana yang dikatakan Ashadi (2000) bahwa materi komunikasi, pornografi tidak dapat dilepaskan dari ruang public (public sphere) yang melingkupinya. Dalam konteks sosial, pornografi dapat dibicarakan dalam tiga tataran, yaitu pertama dari nilai yang terkandung secara intrinsic dalam muatan informasi hal ini melingkupi pada nilai-nilai yang terkandung dalam materi komunikasi, nilai yang dipandang merendahkan posisi perempuan bersifat terbuka (overt) dan manifes, sehingga mudah diidentifikasi, seperti eksploitasi bagian tubuh dalam konteks seksual dan tujuan sensualitas. Ada pula bersifat tertutup (covert).... Kedua, pornografi dipandang sebagai masalah sosial karena keberadaannya dalam masyarakat. Keberadaan pornografi ikut menumbuhkan sikap permissif dalam seks pada satu pihak, dan pada pihak lain membentuk persepsi yang mendorong berkembangnya agresi seksual. Ekspos tubuh telanjang perempuan dianggap telah membentuk persepsi tentang peluang yang ditawarkan oleh korban. Pada tataran ketiga, pornografi membawa implikasi terhadap posisi perempuan dalam kehidupan sosial, dimulai dari persepsi yang terbentuk dalam diri perempuan sendiri terhadap seksualitasnya. Komodifikasi seksual yang menjadi basis bagi pornografi pada umumnya menjadikan perempuan sebagai obyek. Karenanya pornografi dipandang memiliki kekuatan politisasi dengan membentuk cara pandang yang khas, yang menyebabkan perempuan menerima posisinya yang termarginalisasi dalam kehidupan publik.
Pendapat Ashadi tersebut semakin memperjelas bahwa media internet dalam hal ini layanan camfrog, room Asia 18+ dengan sub-sub room Indonesia telah dijadikan sebagai media untuk mengekploitasi tubuh dalam arti rangsangan seks melalui tubuh dan melalui ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam ruang publik dalam layanan camfrog. Sebagai ruang publik, tidak menutup kemungkinan membawa implikasi ataupun effek negatif bagi anak-anak penguna internet.
Salah satu effek negative bagi pengguna layanan camfrog dapat dipandang dari dua sisi. Pertama terbentuknya komunitas setiap sub room layanan camfrog, meskipun mereka hanya kenal dalam alam maya, namun masing-masing user dapat saja melakukan penyimpangan seks berulang-ulang. Kedua, setiap user laki-laki yang baru mengenal camfrog akan mengalami ketagihan, sehingga lama-kelamaan akan menjadi anggota komunitas.
5. Kesimpulan
Layanan Camfrog yang seyogyanya ditujukan untuk menjadi media pertukaran informasi secara langsung, bahkan dengan fasilitas camera-streaming, ternyata sudah beralih-fungsi menjad suatu ajang eksploitasi seksual. Di sini, tegasnya, laki-laki memanfaatkan fasilitas camfrog untuk memenuhi hasrat seksualnya dengan cara mendominasi pihak perempuan. Cara-cara yang digunakan sangat vulgar, cabul, dan violent. Pihak laki-laki senyatanya masih melakukan kekerasan-kekerasan simbolik dengan cara memposisikan dirinya sebagai subjek (pemilik kuasa) dan menjadikan pihak perempuan sebagai objek hasrat. Dalam layanan camfrog ini, hubungan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan masih jauh dari suatu hubungan yang ideal, dalam arti kata masih ditemukan dominasi satu pihak.
Akan tetapi, perlu menjadi perhatian bahwa perempuan sebagai pihak yang terdominasi, senyatanya, sangat sadar bahwa dirinya tengah dieksploitasi secara seksual. Sebab, data memperlihatkan bahwa perempuan-perempuan itu sengaja merelakan dirinya untuk jadi bahan tontonan dalam layanan camfrog.
Daftar Pustaka
Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Barker, Chris. (2005) Cultural Studies; Teori dan Praktik,
McQuail, Denis.1994. Teori Komunikasi
Rosaldo, E.Z. 1983. Women, Culture and Society, California: Stanford University Press.
Siregar, Ashadi. 2000. Pornografi dan Kekerasan Terhadap Perempuan (Makalah dalam Seminar Nasional Islam, Seksualitas dan Kekerasan Terhadap PerempuanPusat Studi Wanita Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta, 26—29 Juli 2000.
Whinsip, Janice. 1980. Sexuality for

.jpg)
.jpg)



apa itu ga terlalu pak???seorang yang pintar tidak akan mengambil keputusan kalo belum memperoleh data yang lengkap...saya kira yang bapak ambil itu dari sisi yang buruk saja..setiap media pasti mengandung positif dan negatif..jadi saya minta tolong tulis juga sisi positif nya :)saya kira banyak room2 yang tidak seperti yang bapak tuliskan..yang ingin saya tanyakan sama bapak..berapa lama bapak chat via camfrog???
BalasHapuskenapa orang indonesia selalu saya mencari kesalahan bukan nya memperbaiki yang salah ???terima kasih ....dewalangit....
Ini bukan studi komperatif tentang sisi baik dan sisi buruk. Studi ini jelas menggunakan perspektif gender, dimana laki-laki mendominasi kaum perempuan dalam layanan camfrog. Untuk menemukan dominasi dan yang terdominasi itu, saya harus men-dekontruksi) membongkar penggunaan layanan camfrog itu sendiri, dan apa yang saya tulis itulah kenyataan. Sebagai studi kritis tugas saya hanya membongkar, bukan mencari/menemukan solusi. Mungkin bagian saudaralah yang akan menemukan solusi (merekontruksikan)-nya. Trims atas perhatian dan komentar saudara.
BalasHapus