23 Januari 2009

Syam Dalam Cerpen Tembok Pak Rambo Karya Taufk Ikram Jamil Analisis dengan Kerangka Poskolonial

Syam Dalam Cerpen Tembok Pak Rambo

Karya Taufk Ikram Jamil

Analisis dengan Kerangka Poskolonial

Oleh: Afrizal

No. Mhs: 08/275530/PMU/5468

Kumpulan cerita pendek Hikayat Batu-Batu karya Taufik Ikram Jamil terbit tahun 2003, Jakarta, oleh Penerbit Buku Kompas. Empat belas cerita pendek dalam Hikayat Batu-Batu mengandung kritikan social yang sangat kental. Taufik Ikram Jamil menulis cerita pendek tersebut pada masa keruntuhan orde baru di Indonesia dan dalam masa reformasi. Cerita pendek di dalam Hikayat Batu-Batu dapatlah dikatakan menghadirkan nuansa Melayu terutama dari bahasa ungkapnya.

Satu diantara empat belas cerita pendek dalam Hikayat Batu-Batu, berjudul Tembok Pak Rambo, (sebelum diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas dalam bentuk buku, cerpen Tembok Pak Rambo pernah dimuat di Media Indonesia, tanggal 6 Agustus 1999) menarik untuk ditelaah dengan kerangka poskolonial. Ketertarikan itu dikarenakan ceritanya hanya menghadirkan dua orang tokoh namun dengan bahasa ungkap dan konflik yang dibangun pengarangnya melalui penceritaannya memberikan nuansa pengayaan batin bagi pembacanya.

Cerita pendek Tembok Pak Rambo secara kongkrit hanya menghadirkan tokoh-tokoh yaitu Pak Rambo dan Syam. Sedangkan Bahar dan dua nama lagi yaitu Kadri dan Kamar tidak dihadirkan ketokohannya dalam cerita tersebut. Pak Rambo adalah seorang tentara berpangkat jenderal sedangkan Syam seorang ahli ilmu tembok lulusan Jerman. Bahar, Kadri dan Kamar berperan sebagai pembantu di rumah Pak Rambo.

Sinopsis

Pak Rambo seorang yang berpangkat tinggi dan kaya raya ingin mebangun tembok mengelilingi rumahnya. Sebagai pelaksana pembangunan tembok rumah tersebut diserahkan pada Syam seorang ahli ilmu tembok lulusan Jerman. Pak Rambo meminta pada Syam agar tembok yang dibangun itu tidak tembus pandang. Sebagai seorang ahli tembok, Syam menyanggupi. Mulailah Syam menggambar membuat rancangan tembok. Merasa puas dengan rancangannya maka Syam pun membangun tembok mengelilingi rumah Pak Rambo. Begitu tembok yang dibangun selesai dikerjakan, Pak Rambo tetap saja mengatakan tembok yang sudah pernah berdiri setinggi 20 meter dan tebal 4 meter bahkan Syam pernah melapisi bagian dalam tembok beton itu dengan waja dan sudah berkali-kali pula dilakukan bongkar-pasang terhadap tembok tersebut, namun Pak Rambo mengatakan tembok itu tetap tembus pandang. Selain itu Syam pun dikejutkan juga dengan pendapat-pendapat tetangga dan orang lewat di depan rumah Pak Rambo berpendapat sama bahwa tembok yang dikerjakan Syam untuk Pak Rambo masih tetap tembus pandang. Hal ini membuat Syam merasa ketakutan dan stress. Ingin rasanya meninggalkan tanggung jawab yang diberikan Pak Rambo sangat tidak mungkin, Pak Rambo terus saja minta tembok yang dibangun Syam diperbaiki dalam kesempatan yang terakhir sehingga menjadi tembok yang tidak tembus pandang. Sungguh tidak ada alasan bagi Syam untuk menolak perintah Pak Rambo, dan tidak ada pula kuasa Syam untuk membangun tembok sesuai dengan kemauan Pak Rambo.

Mental kolonial adalah tindakan penjajahan terhadap fisik dan mental terhadap jajahannya. Secara fisik penjajah dan terjajah berada dalam ruang yang sama. Yang terjajah bagaimanapun juga secara terpaksa bahkan secara suka rela akan mengikuti kemauan penjajahnya meskipun bertentangan dengan hati nuraninya. Di Indonesia, masa kolonial itu sudah berakhir tapi dalam karya sastra yang menghadirkan kekinian masih saja menghadirkan sifat-sifat penjajah dan terjajah seperti halnya terdapat dalam penokohan cerita fiksi. Pendekatan poskolonial yang ditawarkan dalam telaah penokohan cerita Tembok Pak Rambo yaitu adanya tokoh yang mendominasi dan yang tersubordinasi. Siapakah yang mendomnasi dan siapa yang terdominasi? Siapakah yang menjajah dan siapa pula yang terjajah? Atau siapa yang kuasa dan siapa yang dikuasai? Atas kesadaran jati diri maka berjuang untk membebaskan diri dari hubungan yang tidak setara dan berkeinginan untuk terbebas dari berbagai tekanan kuasa itu.

Naratif Tembok Pak Rambo, menjelaskan secara eksplisit bahwa Pak Rambo adalah seorang jenderal bintang empat yang kaya. Tokoh Syam dijelaskan pula sebagai satu-satunya ahli ilmu tembok lulusan Jerman.

a.

“Bagaimana tidak, Pak Rambo itu bukan kecil-kecilnya orang…. Jenderal berbintang empat ini justru mengatakan, tembok yang dibuat Syam tembus, pandang....” (hal 145).

b.

“… Sedang aku apa yang tak ada?” Pak Rambo berhenti sejenak.

“Sekali seminggu aku ke Australia, main golf, berjudi ke Las Vegas, dan pacaran ke Hongkong….” (Hal 149).

c.

Sekarang kita perhatikan tokoh Syam sebagaimana yang dinarasikan dalam cerita:

“Sia-sia kau belajar sampai ke Jerman segala, kalau hanya membuat tembok saja tidak becus….” (hal 145)

d.

“Hanya orang seperti kau, orang yang meraih ilmu tembok di Jerman satu-satunya di sini yang layak mengerjakan tembok tersebut,” kata Pak Rambo suatu hari. (hal 146)

Melihat penokohan antara Pak Rambo dengan Syam terlihat bahwa keduanya mempunyai kelebihan masing-masing. Pak Rambo punya kuasa atas pangkat dan kekayaan yang dimilikinya sehingga dia bisa melakukan apa saja yang dikehendakinya. Di sisi lain Pak Rambo juga menyadari bahwa Syam adalah seorang yang punya kuasa atas pengetahuannya mengenai ilmu pembuatan tembok. Keduanya saling kuasa dan keduanya saling membutuhkan.

Perbedannya yaitu Pak Rambo mempunyai keinginan, yang keinginannya itu dipandangnya hanya Syam yang bisa mewujudkannya (lihat kutipan c). Dengan kuasa atas ilmu pengetahuan tentang tembok itu pulalah Syam mengerjakan tembok yang tidak tembus pandang sebagaimana keinginan Pak Rambo.

Secara inplisit penamaan Pak Rambo mengingakan kita pada sosok Rambo dalam film Amerika tahun 80-an yang mempunyai kekuatan untuk menghacurkan musuh-musuhnya. Sedangkan Syam ahli ilmu tembok lulusan Jerman, mengingatkan kita bagaimana keahlian Jerman membangun tembok berlin yang memisahkan Jerman Timur dengan Jerman Barat. Atau barangkali dapat pula ditafsirkan bahwa Pak Rambo adlah lambang kekuasaan orde baru sedangkan Syam adalah lambang orang-orang yang berada paling dekat dengan pemerintahan orde baru.

Bagamana hubungan yang semula terjalin sama-sama memiliki kuasa yang saling membutuhkan bisa berubah menjadi kuasa dan yang dikuasai, dominasi dan yang terdominasi? Hal itu terjadi karena Syam menurut pandangan Pak Rambo tidak mampu mengaktualisasikan pembangunan tembok yang tidak tembus pandang sebagaimana yang diinginkannya. Meskipun Syam dengan segala ilmu pengetahuannya, sekuat-dapat berusaha membangun tembok yang tidak tembus pandang sebagaimana diinginkan Pak Rambo. Kenyataannya sudah beberapa kali tembok yang melingkari 3 hektar tanah untuk membatasi rumah dan perkarangan Pak Rambo mengalami bongkar pasang, namun belum memenuhi keinginan Pak Rambo. Pak Rambo pun memberikan kesempatan terakhir pada Syam untuk mengerjakan tembok pekarangan rumahnya dengan nada ancaman. Syam teringat dongeng berikut ini;

e.

“Dahulu kala, demikian kisah si empunya cerita, memang ada seorang raja yang setiap hari merasa amat berbahagia karena melihat rakyatnya sangat sejahtera, padahal yang dilihatnya adalah tembok tebal dengan lukisan-lukisan kesejahteraan dunia disekeliling istana. Lukisan-lukisan yang tentulah sangat luar biasa hebatnya itu sengaja dibuat para menteri untuk mengelabui raja, sehingga mereka leluasa memeras rakyatnya dan korupsi…. Syam cepat-cepat membuang ingatannya (hal 142)

Ingatan atas dongeng itu membuat Syam semakin tidak berdaya sehingga Syam membuang ingatan atas dongeng itu jauh-jauh. Tapi sesungguhnya dongeng tentang tembok raja itu sudah berkecamuk dalam pikiran Syam. Bercampur aduk dengan ancaman Pak Rambo sekiranya tidak mampu mewujudkan tembok sebagaimana yang diinginkan Pak Rambo.

f.

“Tau mengapa kau kupanggil? Tanya Pak Rambo petang itu, beberapa jam setelah kepalanya sakit. Syam hanya menunduk dan yakin bahwa persoalannya pastilah mengenai tembok tersebut.

“Ayo jawab jangan menunduk seperti itu.”

“Pelan-pelan ia mengangkat muka dan berkata, “Saya Pak…”

Belum sempat ia mengakhiri kalimat itu, Pak Rambo sudah menyambarnya dengan bentakan keras.” (hal 143)

Sebagai ahli ilmu tembok, Syam tidak mempunyai kuasa apa-apa lagi dalam menghadapi Pak Rambo. Berusaha mengikuti kemauan dan di bawah ancaman Pak Rambo namun apa yang dikerjakan tetap saja tidak sesuai dan keinginan Pak Rambo. Secara psikis Syam tertekan sehingga membuatnya sakit (lihat e).

Apa sebenarnya yang terjadi sehingga semua rancangan tembok yang sudah dibangun tidak memenuhi keinginan Pak Rambo? Kedua tokoh ini ternyata berada dalam tatanan pikiran yang berbeda. Pak Rambo sebenarnya menginginkan tembok tidak tembus pandang yang sedehana saja sehingga dianya tidak melihat kemiskinan, ketidak adilan di luar tembok rumahnya. Meskipun tembok yang dibangun oleh Syam sangat megah, tapi Pak Rambo tetap bisa melihat kemiskinan dan ketidakadilan di luar rumahnya. Yang diinginkan Pak Rambo hanyalah tembok biasa sehingga tertutup pandangannya dengan lingkungannya sendiri. Sedangkan Syam berada dalam tatanan duniawi dengan kemegahan, tertipu atau sengaja ditipu oleh Pak Rambo sehingga apa yang dilakukan oleh Syam dalam membangun tembok rumah Pak Rambo tidak sesuai dengan keinginan Pak Rambo? Meskipun kemudian Syam menyadari bahwa tembok yang diinginkan Pak Rambo adalah tembok hati nurani, bukan tembok secara harfiah. Jika tembok hati nurani sudah dibangun maka serendah apapun tembok secara harfiah tidak akan menjadi sesuatu yang tembus pandang.

g.

“Aku ingin tembok rumahku sebaik-baiknya agar aku tidak melihat kemiskinan dan ketidakadilan di sekitarku. Tetapi tembok itu tidak mampu menghalangi mata nuraniku. Itulah sebabnya, tembok tersebut tembus pandang. Tetapi secara harfiah, tembok itu tetap tidak tembus pandang……” (hal 150)

Atas tekanan Pak Rambo, bagaimanapun juga Syam ingin terbebas atas tekanan Pak Rambo dan pada akhirnya Syam mengatakan:

“… Tadi malam Bapak mengatakan, sebenarnya tembok itu tidak tembus pandang. Tapi tembok yang tinggi dan setebal apapun, tidak akan mampu menutupi hati nurani untuk memandang apa-apa di sebalik tembok itu….”

“Terus, terus…!” Pak Rambo membentuk.

“ Bapak sebenarnya ingin menutup hati nurani.”

“Pukimak, anak haram jadah,” Pak Rambo mengamuk….. (hal 151)

Kebenaran perkataan Syam tentang tembok hati nurani, membuat kekuatan Pak Rambo melemah dan membiarkan Syam terbebas dari tekanannya.

“… Pak Rambo terkekeh-kekeh dan berkata lagi, Memang benar, orang sulit menurut kehendak hati nurani sekali gus membedakannya dengan nafsu. Selamat berjuang wahai nurani.” (hal 154)

Cerita Pendek Tembok Pak Rambo, telah memperlihatkan semula Syam seorang tokoh yang terdominasi, berada dalam tekanan mental dan dijajah hak kreasinya oleh Pak Rambo. Tekanan-tekanan itu terjadi hanyalah karena Pak Rambo dengan sengaja tidak memberi tau bahwa tembok yang sebenarnya yang diinginkannya pada Syam. Pikiran-pikiran Syam atas dongeng masa lalu dan sikap kekuasaan atas jabatan dan kekayaan Pak Rambo yang semena-mena menambah tekanan batin dalam kehidupan Syam. Dengan begitu tekanan mental dan dihantui oleh gambaran masa lalu yang tidak terkuasai oleh diri sendiri menjadi berimbas menjadi ketakutan baru dan tekanan psikis dalam menghadapi sesuatu yang hampir sama dengan kejadian sedang dihadapi.

Menyadari bahwa mata nurani Pak Rambo-lah yang harus ditembok maka Syam-pun menyentuh nurani Pak Rambo dengan hati nuraninya (lihat 151 dan 154). Dengan begitu Pak Rambo tersadar dengan dirinya, dan Syam terlepas dari keterjajahan, terlepas dari tersubordinasi. Syam mendapatkan kemerdekaan dan kebebasannya atas kuasaya sendiri***

Bibliografi

Ania Loomba. Kolonialisme/Pascakolonialisme (terjemahanHartono Hadikusumo, 2003. Jogjakarta. BentangBudaya.

Bryan S. Turner. Orientalisme, Posmodernisme dan Globalisme (terjemahan Eno Syafrudien, 2002. Jakarta. Riora Cipta.

Leela Gandhi. Teori Poskolonial Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat (terjemahan Yuwan Wahyutri & Nur Hamidah), 2007. Yogyakarta. Qalam.

Taufik Ikram Jamil. Hikayat Batu-Batu, 2005. Jakarta. Penerbit Buku Kompas.

22 Januari 2009

Laki-laki dan Perempuan dalam Camfrog



Laki-Laki dan Perempuan dalam Camfrog

(Perspektif Gender)

Abstract

This paper aims to study the interaction of male and female in camfrog. Camfrog is one of the internet-chatting providers in which users can communicate each other virtually. However, having the camera-streaming, users tend to exploit that provider and make use of it as a means of expressing sexual desires. By using the gender perspective, the writer focuses on how female and male express their sexual desires in an internet-chatting provider. The result shows that female becomes the male’s sexual object. In here, gender-biased is clearly seen; in that, male-user takes advantage from the rooms to dominate the female-user on the one hand, and the female-user also willingly gives their bodies to be the male’s sexual object. The writer finds out the symbolic sexual harassment in this interactive media by which all user expresses vulgarity, obscenity, and eroticism.

Keyword: camfrog, female, male, vulgar, obscene, sexual, dominate, internet.

Ilustrasi

Sekarang saya berada di Yogyakarta dalam rangka studi Kajian Budaya dan Media. Suatu waktu seorang sahabat lama dari kampung kelahiranku (kampung kecil di Dalu-dalu, Kecamatan Tambusai, Rokan Hulu, Riau), melalui telepon cellular bercerita padaku tentang keasyikannya yang baru. Keasyikannya itu berupa ketagihan mengakses camfrog, yang dapat melihat perempuan dengan berbagai aksi erotis bahkan sampai tanpa busana. Hampir tidak percaya dengan apa yang disampaikan sahabat saya itu, tapi diapun mengeluh karena amat sulit menghindari kebiasaannya itu”.

1. Latar Belakang dan Masalah

Kehadiran media komunikasi massa sejatinya untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Satu di antara media massa itu adalah internet dengan berbagai program layanannya. Program layanan dalam internet bahkan memberikan ruang untuk berkomunikasi/konikasi secara langsung antara dua atau beberapa orang dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda melalui program pengirim pesan, istilah lainnya disebut dengan chatting. Sebagaima yang diungkapkan oleh Ashadi, fungsi media massa, menyampaikan informasi baik bersifat faktual maupun fiksional, untuk memenuhi kepentingan fragmatis sosial dan psikis warga masyarakat. Fungsi ini bersifat imperatif sebagai kewajiban dalam memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi kebenaran (truth) dalam konteks kehidupan publik berdimensi politik, ekonomi dan sosial, dan informasi estetis untuk mengisi kehidupan publik secara kultural. (Diktat Matakuliah KBM/UGM Institusionalisasi dan Format Media).

Adalah camfrog salah satu layanan chatting populer untuk umum di antara layanan chatting lainnya seperti pidgin (gaim), trilian, kopete, yahoo! messenger(YM), MSN messenger dan windows live messenger. Pengelola layanan chatting biasanya membentuk ruang pertukaran komunikasi untuk beberapa orang sehingga membentuk suatu komunitas. Selain itu disediakan pula ruang berkomunikasi yang sifatnya pribadi (privacy) yang tidak dapat diakses oleh pengguna (user) lainnya. Dalam ruangan inilah user, baik laki-laki maupun perempuan berkomunikasi saling menyampaikan pesan (informasi) tanpa batas. Yang dimaksud dengan komunikasi tanpa batas yaitu apapun yang ingin dibicarakan dan apapun yang ingin diperlihatkan oleh user yang satu pada user yang lain dapat saja terjadi seperti pembicaraan ekonomi, politik, saling menghujad, seks (bentuk tubuh), pornografi/porno aksi dan lain-lain.

Dalam tulisan ini penulis memfokuskan pembahasan terhadap layanan chatting yang dinamakan dengan camfrog dalam hubungannya dengan perempuan dan seksualitas (pornografi/pornoaksi). Ketertarikan terhadap camfrog karena program layanannya memungkinkan user lebih ekspresif dalam berkomunikasi dibandingkan layanan chatting lainnya.

Apa itu camfrog? Siapa saja yang menggunakan layanan camfrog? Seperti yahoo messenger, camfrog adalah perangkat lunak pengirim pesan instant (chatting) yang memungkinkan para penggunanya (user) untuk saling berinteraksi satu sama lain melalui pesan yang dapat berupa text, video streaming, audio streaming, dan/atau juga voip (telepon internet). Fungsi utamanya tentulah untuk chatting. Perbedaan yang mendasar dengan program chatting lainnya yaitu user dapat melihat cam dari user lainnya tanpa meminta izin.

Kelebihan camfrog diantaranya untuk 1 (satu) room (channel) bisa menampung sampai dengan 1000 user, bandingkan dengan YM yg hanya bisa nampung sekitar 50 orang saja. Jika menggunakan camfrog pro ( full version ) dapat membuka banyak cam user dalam satu waktu, dan bisa pula mengubah layar ukuran video menjadi lebih besar, bisa menambahkan teks pada layar video, mampu mencari lokasi dimana pengguna yang telah ditambah di-add contact, bisa mengirim file ke pengguna pro dan bisa melakukan privacy cam.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, pengguna layanan camfrog tidak ada batasan jenis kelamin maupun usia. Hal ini disebabkan user dapat mengaksesnya melalui ruangan privace untuk dikonsumsi publik.

Berdasarkan latar belakang dan ilustrasi di atas penulis merumuskan masalah yaitu bagaimakah perilaku laki-laki dan perempuan dalam room layanan camfrog?

2. Tujuan

Kajian ini bertujuan untuk melihat perilaku laki-laki terhadap perempuan dan respon perempuan terhadap perilaku laki-laki dalam room camfrog. Selain itu bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya nilai pornoaksi/pornografi oleh pengguna room camfrog.

3. Sumber dan Metode Pengumpulan Data

Data yang ditelaah dalam kajian ini berupa teks, video streaming dan audio streaming. Data yang diambil berupa data layanan camfrog, room Asia 18+, khususnya layanan camfrog Indonesia. Untuk mendapatkan data, penulis melakukan partisipasi langsung dalam arti terlibat secara langsung menjelajah beberapa sub room camfrog Indonesia.

4. Pembahasan

Laki-laki dan perempuan dalam berbagai usia dengan mudah mengakses dan masuk ke room yang disediakan program camfrog. Layanan program camfrog untuk Indonesia dengan berbagai sub room dapat diakses melalui Asia 18+ (delapan belas tahun ke atas). Selain Indonesia, dalam room Asia 18+ terdapat layanan sub room untuk negara-negara seperti China, Thailand, dan India (negara-negara Asia). Pengelola layanan sub room camfrog di Indonesia yaitu: IoI_INDONESIA_GLOBAL_FREE_SHOW_IoI, Indonesia_18_X_Show,XoX_INDONESIA_PARTY_PLUS_XoX, XxOx_ Indonesia_City _China_Town_xOxX, xOxX Persahabatan_Indonesia_XxOx, XxOx_Indonesia _City

_xOxX, oXo_ROOM PEREMPUAN_INDONESIA_oXo, XoX_INDONESIA_ROOM_XoX,

IoI_INDONESIA_KALIMANTAN_GLOBAL_IoI, lol_R00M_9ILA_9ILAAN_lol, Xox_X _INDOSIA_ST4RBLUE_X_xoX, Indonesian_Online_Community , 0x0_INDONESIA_X

_LING-LING_0x0, dan XX_indonesian_mate_XX. Pelayanan camfrog, online disediakan 24 jam. Para penghuni room dipandu oleh operator (istilah lainnya DJ = disc jokey) yang bertugas sebagai operator musik, menyapa user saat berada dalam room serta mengontrol aturan main dalam sub room yang dikelolanya. Secara keseluruhan penghuni room didominasi oleh laki-laki. Namun anehnya perempuan sangat berperan dalam menetukan jumlah penghuni setiap room. Semakin banyak jumlah penghuni perempuan yang mengaktifkan web cam-nya maka semakin banyak pula pesan-pesan yang disampaikan dalam room tersebut. Berikut ini akan dipaparkan perilaku laki-laki dan respon perempuan penghuni room layanan program camfrog Indonesia.

Sebagai partisipan, penulis menggunakan nickname “dordordor” untuk menjelajah layanan camfrog Indonesia. Begitu menyetujui peraturan untuk join room diterima, muncullah running teks percakapan sesama laki-laki dan teks yang ditujukan pada perempuan dalam room tersebut. Teks-teks yang muncul itu seperti dalam sub room ,XoX_INDONESIA_PARTY_PLUS_XoX:

jengri_green (1:13:56) : MANA YG SHOWW SOB........

fajar_krenzz (1:14:18) : ahhh meing gak asikk tauuuuuuuuuuu

BIMBIM_09 (1:14:47) : piye to? kok lum dibuka...

I_GEDE_ANUNE (1:15:27) : AKHIRNYA MEING SHOW JUGA BRO

sub room Indonesia City Plus XoX Room:

wishnu : AYO DJ TEMENIN NUR BUKA BAJUNYA
chandratoba : yulia21_ gwe tgu lo...
15012123696 :
rhombenk021 : I LOVE NUR......... HOT LG NUR
PrOMoTIon_BOT : (A34) (C22) WELCOME TO XxOx_Indonesia_City_Plus_xOxX (Add) ENJOY & HAVE A NICE CHAT (C22) (A34)
FREEDOM_BOT : AIDS

fly_6 : yulia21__, selam
donito : Nurbaeti, nenen kamu jelek ya makanya ngga berani buka baju kan
MieRebusKuah : Nurbaeti, POSE APAAN TUH
flashmen76 : NURBAETI MAU BUKA KALO N7Y JUGA BUKA

nenenk : Nurbaeti, hai liatin donk biar seru
kanu_ndo : yulia21__, ko’ tidur yulia??????????
UdelkuBodongSeparo : N7Y ………….. KALO GITU NGGAK ASYIK MENDINGAN LO DIEM AJA … APA MAKAN LAGI … BIAR GENDUT …
yusni67 : N7Y NI BUATMU F) F) F) F)

(Banyak teks dengan bahasa sangat vulgar, karena merasa tidak pantas maka penulis tidak menyertakannya sebagai contoh).

Melihat kenyataan atas ungkapan teks-teks di atas bahwasanya laki-laki telah memandang perempuan sebagai pemuas hasrat biologis. User room camfrog kaum laki-laki memandang perempuan sebagai sesuatu yang rendah, terjajah dan lemah. Jika perempuan yang diminta untuk berperilaku syur, erotis tidak mengabulkannya maka perempuan itu mereka caci dengan kata-kata penghinaan, seperti: jelek, dasar gemuk, takut kelihatan karena buah dada besar sebelah dan lain-lain.

Rosaldo mengatakan dalam relasi laki-laki dan perempuan, hegemoni yang terjadi bisa dianalisis pada dua arus utama, yaitu ideologi patriarkat dan ideologi pallocentrist. Dalam masyarakat patriarkat, perempuan selalu berada pada posisi yang tersubordinasi dalam kehidupan seksual. Perempuan harus memenuhi segala macam standar yang ditentukan oleh laki-laki (atau oleh struktur yang menguntungkan laki-laki). Nilai standar itu merupakan realitas objektif yang meminta kepatuhan-kepatuhan sosial perempuan tidak terlepas dari ideologi nature dan culture atau objek dan subjek, dan perempuan ditempatkan sebagai objek dalam dunia laki-laki (culture) (Rosaldo, 1983: 27-57). Perlakuan laki-laki penghuni room memandang perempuan sebagai pemuas hasrat biologis dan dapat begitu saja diperintah suatu pandangan sebagai akibat ideologi patriakat yang ditanamkan dalam keluarga.

Perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama dalam menggunakan layanan camfrog. Dalam list penghuni camfrog (terdapat disebelah kiri scren), status penghuni hanya dibagi menjadi dua yaitu pengguna (user) dan operator. Kemudian melalui simbol ada pembeda user laki-laki dan perempuan. Simbol pembeda ini diperlukan untuk memudahkan sesama user dalam menentukan user laki-laki atau perempuan.

Kesamaan kesempatan antara perempuan dan laki-laki dalam menggunakan layanan camfrog tidak serta merta menjadikan perempuan setara dalam merespon teks-teks dalam room camfrog. Kenyataannya penghuni camfrog perempuan yang mengaktifkan cam tetap saja menjadi objek tontonan laki-laki. Jika perempuan dalam cam terlihat seksi, maka penghuni room laki-laki berlomba-lomba melakukan bujuk rayu, meminta perempuan tersebut untuk show (baca erotis, pornografi dan pornoaksi). Perilaku user laki-laki meminta perempuan melakukan perilaku seks dengan ungkapan vulgar di ruang privae untuk ditampilkan melalui cam yang dikonsumsi publik dapat digolongkan dalam kekesan simbolik.

Kehadiran materi erotika melalui media yang tergolong pornografi dan porno aksi dapat dilihat dari sudut pandang materi pesan/informasi, yaitu berupa tindakan tidak senonoh seperti manusia telanjang dan penggambaran tindakan seksual. Hal lainnya ditujukan kepada efek yang ditimbulkan oleh materi pornografi, berupa dorongan hasrat birahi yang muncul dalam diri pengguna sebagai effek. Terutama sisi yang menyangkut effek sangat sulit dalam pembuktiannya. Karena itu kalangan media menafsirkan dengan bertumpu pada penampilan manusia telanjang, dengan pendefinisian derajatnya, seperti penampilan frontal yang menunjukkan alat kelamin secara jelas, sampai gaya yang hanya asosiatif terhadap tubuh telanjang. Sistem sekuriti media dalam hal ini internet antara lain menetapkan derajat jumlah yang mengakses (rating) dari informasi yang mencakup bahasa, ketelanjangan, tindakan seksual, dan kekerasan. (Holiday, 1999; Rohde, 1999).

Dari data yang dikumpulkan rata-rata perempuan merespon 1 (satu) kali dari 30 (tiga puluh) teks-teks yang disampaikan laki-laki kepada seorang user perempuan. Respon yang dilakukan perempuan melalui teks tidak merupakan perlawanan terhadap rayuan, bujukan, atau kata-kata cabul dan cacian laki-laki, melainkan hanya dengan kata-kata seperti, “Capek”, “Minum dulu ah”, “Gggak mau”, atau “Sabar”. Suatu hal yang menarik ternyata user perempuan lebih memilih merespon perlakuan user laki-laki dengan aksi melalui cam seperti menjulurkan lidah, mencibir, senyum, melotot, muka cemberut atau meresponnya seperti: seolah mau membuka baju, atau seolah-olah mau memeloroti baju tidur.

Tindakan user perempuan seperti itu semakin membuat user laki-laki secara bersama-sama menyerang untuk menggoda, membujuk, dan memuji-muji dengan menyebut seksi, cantik, dan manis, terkadang melakukan voting untuk mendukung user perempuan agar melakukan show. Akibatnya, secara sadar atau tidak sadar user perempuanpun melakukan show mempertontonkan bagian-bagian lekuk tubuhnya, bahkan kebanyakan user perempuan melakukan aksi membangkitkan birahi (erotic), tarian telanjang (stripttease) sampai melakukan masturbasi tanpa atau dengan alat bantu.

http://1.bp.blogspot.com/_tWUFtFxgvng/SRhrGaMxxVI/AAAAAAAAAXw/4_4WPTDf5aA/s200/camfrog.gif

Effek aksi user perempuan melalui cam 40 (empat puluh) orang user laki-laki melakukan onani (seks menyimpang). Realitasnya user perempuan dan laki-laki sama-sama melakukan penyimpangan seks. Perbedaannya yaitu user laki-laki terangsang hasrat biologisnya karena melihat aksi erotis perempuan, sedangkan user perempuan melakukan aksi erotis dan penyimpangan seks relatif tanpa pengaruh menonton aksi porno laki-laki. Dalam hal ini user perempuan memang dengan suka rela mempertontonkan tubuhnya pada user laki-laki dan sesama user perempuan. Sebab user perempuan melakukan aksi pornografi itu tidak ada interes lain seperti kepentingan materil melainkan hanya untuk kepuasan bathin semata.

Apa yang dilakukan oleh user sub camfrog dengan berbagai ungkapan melalui teks dan aksinya di cam sesungguhnya perlakuan yang sengaja saling merangsan hasrat biologis kedua belah pihak dalam public sphere yang disediakan camfrog. Sebagaimana yang dikatakan Ashadi (2000) bahwa materi komunikasi, pornografi tidak dapat dilepaskan dari ruang public (public sphere) yang melingkupinya. Dalam konteks sosial, pornografi dapat dibicarakan dalam tiga tataran, yaitu pertama dari nilai yang terkandung secara intrinsic dalam muatan informasi hal ini melingkupi pada nilai-nilai yang terkandung dalam materi komunikasi, nilai yang dipandang merendahkan posisi perempuan bersifat terbuka (overt) dan manifes, sehingga mudah diidentifikasi, seperti eksploitasi bagian tubuh dalam konteks seksual dan tujuan sensualitas. Ada pula bersifat tertutup (covert).... Kedua, pornografi dipandang sebagai masalah sosial karena keberadaannya dalam masyarakat. Keberadaan pornografi ikut menumbuhkan sikap permissif dalam seks pada satu pihak, dan pada pihak lain membentuk persepsi yang mendorong berkembangnya agresi seksual. Ekspos tubuh telanjang perempuan dianggap telah membentuk persepsi tentang peluang yang ditawarkan oleh korban. Pada tataran ketiga, pornografi membawa implikasi terhadap posisi perempuan dalam kehidupan sosial, dimulai dari persepsi yang terbentuk dalam diri perempuan sendiri terhadap seksualitasnya. Komodifikasi seksual yang menjadi basis bagi pornografi pada umumnya menjadikan perempuan sebagai obyek. Karenanya pornografi dipandang memiliki kekuatan politisasi dengan membentuk cara pandang yang khas, yang menyebabkan perempuan menerima posisinya yang termarginalisasi dalam kehidupan publik.

Pendapat Ashadi tersebut semakin memperjelas bahwa media internet dalam hal ini layanan camfrog, room Asia 18+ dengan sub-sub room Indonesia telah dijadikan sebagai media untuk mengekploitasi tubuh dalam arti rangsangan seks melalui tubuh dan melalui ungkapan-ungkapan yang disampaikan dalam ruang publik dalam layanan camfrog. Sebagai ruang publik, tidak menutup kemungkinan membawa implikasi ataupun effek negatif bagi anak-anak penguna internet.

Salah satu effek negative bagi pengguna layanan camfrog dapat dipandang dari dua sisi. Pertama terbentuknya komunitas setiap sub room layanan camfrog, meskipun mereka hanya kenal dalam alam maya, namun masing-masing user dapat saja melakukan penyimpangan seks berulang-ulang. Kedua, setiap user laki-laki yang baru mengenal camfrog akan mengalami ketagihan, sehingga lama-kelamaan akan menjadi anggota komunitas.

5. Kesimpulan

Layanan Camfrog yang seyogyanya ditujukan untuk menjadi media pertukaran informasi secara langsung, bahkan dengan fasilitas camera-streaming, ternyata sudah beralih-fungsi menjad suatu ajang eksploitasi seksual. Di sini, tegasnya, laki-laki memanfaatkan fasilitas camfrog untuk memenuhi hasrat seksualnya dengan cara mendominasi pihak perempuan. Cara-cara yang digunakan sangat vulgar, cabul, dan violent. Pihak laki-laki senyatanya masih melakukan kekerasan-kekerasan simbolik dengan cara memposisikan dirinya sebagai subjek (pemilik kuasa) dan menjadikan pihak perempuan sebagai objek hasrat. Dalam layanan camfrog ini, hubungan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan masih jauh dari suatu hubungan yang ideal, dalam arti kata masih ditemukan dominasi satu pihak.

Akan tetapi, perlu menjadi perhatian bahwa perempuan sebagai pihak yang terdominasi, senyatanya, sangat sadar bahwa dirinya tengah dieksploitasi secara seksual. Sebab, data memperlihatkan bahwa perempuan-perempuan itu sengaja merelakan dirinya untuk jadi bahan tontonan dalam layanan camfrog.

Daftar Pustaka

Fakih, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

Barker, Chris. (2005) Cultural Studies; Teori dan Praktik, Yogyakarta: Bentang

McQuail, Denis.1994. Teori Komunikasi Massa ; Suatu Pengantar, Jakarta, Penerbit Erlangga

Rosaldo, E.Z. 1983. Women, Culture and Society, California: Stanford University Press.

Siregar, Ashadi. 2000. Pornografi dan Kekerasan Terhadap Perempuan (Makalah dalam Seminar Nasional Islam, Seksualitas dan Kekerasan Terhadap PerempuanPusat Studi Wanita Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta, 26—29 Juli 2000.

Whinsip, Janice. 1980. Sexuality for Sale, dalam Stuart Hall et al., Culture, Media and Laguage, London: Hutchinson.