Syam Dalam Cerpen Tembok Pak Rambo
Karya Taufk Ikram Jamil
Analisis dengan Kerangka Poskolonial
Oleh: Afrizal
No. Mhs: 08/275530/PMU/5468
Kumpulan cerita pendek Hikayat Batu-Batu karya Taufik Ikram Jamil terbit tahun 2003,
Satu diantara empat belas cerita pendek dalam Hikayat Batu-Batu, berjudul Tembok Pak Rambo, (sebelum diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas dalam bentuk buku, cerpen Tembok Pak Rambo pernah dimuat di Media
Cerita pendek Tembok Pak Rambo secara kongkrit hanya menghadirkan tokoh-tokoh yaitu Pak Rambo dan Syam. Sedangkan Bahar dan dua nama lagi yaitu Kadri dan Kamar tidak dihadirkan ketokohannya dalam cerita tersebut. Pak Rambo adalah seorang tentara berpangkat jenderal sedangkan Syam seorang ahli ilmu tembok lulusan Jerman. Bahar, Kadri dan Kamar berperan sebagai pembantu di rumah Pak Rambo.
Sinopsis
Pak Rambo seorang yang berpangkat tinggi dan kaya raya ingin mebangun tembok mengelilingi rumahnya. Sebagai pelaksana pembangunan tembok rumah tersebut diserahkan pada Syam seorang ahli ilmu tembok lulusan Jerman. Pak Rambo meminta pada Syam agar tembok yang dibangun itu tidak tembus pandang. Sebagai seorang ahli tembok, Syam menyanggupi. Mulailah Syam menggambar membuat rancangan tembok. Merasa puas dengan rancangannya maka Syam pun membangun tembok mengelilingi rumah Pak Rambo. Begitu tembok yang dibangun selesai dikerjakan, Pak Rambo tetap saja mengatakan tembok yang sudah pernah berdiri setinggi 20 meter dan tebal 4 meter bahkan Syam pernah melapisi bagian dalam tembok beton itu dengan waja dan sudah berkali-kali pula dilakukan bongkar-pasang terhadap tembok tersebut, namun Pak Rambo mengatakan tembok itu tetap tembus pandang. Selain itu Syam pun dikejutkan juga dengan pendapat-pendapat tetangga dan orang lewat di depan rumah Pak Rambo berpendapat sama bahwa tembok yang dikerjakan Syam untuk Pak Rambo masih tetap tembus pandang. Hal ini membuat Syam merasa ketakutan dan stress. Ingin rasanya meninggalkan tanggung jawab yang diberikan Pak Rambo sangat tidak mungkin, Pak Rambo terus saja minta tembok yang dibangun Syam diperbaiki dalam kesempatan yang terakhir sehingga menjadi tembok yang tidak tembus pandang. Sungguh tidak ada alasan bagi Syam untuk menolak perintah Pak Rambo, dan tidak ada pula kuasa Syam untuk membangun tembok sesuai dengan kemauan Pak Rambo.
Mental kolonial adalah tindakan penjajahan terhadap fisik dan mental terhadap jajahannya. Secara fisik penjajah dan terjajah berada dalam ruang yang sama. Yang terjajah bagaimanapun juga secara terpaksa bahkan secara suka rela akan mengikuti kemauan penjajahnya meskipun bertentangan dengan hati nuraninya. Di Indonesia, masa kolonial itu sudah berakhir tapi dalam karya sastra yang menghadirkan kekinian masih saja menghadirkan sifat-sifat penjajah dan terjajah seperti halnya terdapat dalam penokohan cerita fiksi. Pendekatan poskolonial yang ditawarkan dalam telaah penokohan cerita Tembok Pak Rambo yaitu adanya tokoh yang mendominasi dan yang tersubordinasi. Siapakah yang mendomnasi dan siapa yang terdominasi? Siapakah yang menjajah dan siapa pula yang terjajah? Atau siapa yang kuasa dan siapa yang dikuasai? Atas kesadaran jati diri maka berjuang untk membebaskan diri dari hubungan yang tidak setara dan berkeinginan untuk terbebas dari berbagai tekanan kuasa itu.
Naratif Tembok Pak Rambo, menjelaskan secara eksplisit bahwa Pak Rambo adalah seorang jenderal bintang empat yang kaya. Tokoh Syam dijelaskan pula sebagai satu-satunya ahli ilmu tembok lulusan Jerman.
a.
“Bagaimana tidak, Pak Rambo itu bukan kecil-kecilnya orang…. Jenderal berbintang empat ini justru mengatakan, tembok yang dibuat Syam tembus, pandang....” (hal 145).
b.
“… Sedang aku apa yang tak ada?” Pak Rambo berhenti sejenak.
“Sekali seminggu aku ke
c.
Sekarang kita perhatikan tokoh Syam sebagaimana yang dinarasikan dalam cerita:
“Sia-sia kau belajar sampai ke Jerman segala, kalau hanya membuat tembok saja tidak becus….” (hal 145)
d.
“Hanya orang seperti kau, orang yang meraih ilmu tembok di Jerman satu-satunya di sini yang layak mengerjakan tembok tersebut,” kata Pak Rambo suatu hari. (hal 146)
Melihat penokohan antara Pak Rambo dengan Syam terlihat bahwa keduanya mempunyai kelebihan masing-masing. Pak Rambo punya kuasa atas pangkat dan kekayaan yang dimilikinya sehingga dia bisa melakukan apa saja yang dikehendakinya. Di sisi lain Pak Rambo juga menyadari bahwa Syam adalah seorang yang punya kuasa atas pengetahuannya mengenai ilmu pembuatan tembok. Keduanya saling kuasa dan keduanya saling membutuhkan.
Perbedannya yaitu Pak Rambo mempunyai keinginan, yang keinginannya itu dipandangnya hanya Syam yang bisa mewujudkannya (lihat kutipan c). Dengan kuasa atas ilmu pengetahuan tentang tembok itu pulalah Syam mengerjakan tembok yang tidak tembus pandang sebagaimana keinginan Pak Rambo.
Secara inplisit penamaan Pak Rambo mengingakan kita pada sosok Rambo dalam film Amerika tahun 80-an yang mempunyai kekuatan untuk menghacurkan musuh-musuhnya. Sedangkan Syam ahli ilmu tembok lulusan Jerman, mengingatkan kita bagaimana keahlian Jerman membangun tembok berlin yang memisahkan Jerman Timur dengan Jerman Barat. Atau barangkali dapat pula ditafsirkan bahwa Pak Rambo adlah lambang kekuasaan orde baru sedangkan Syam adalah lambang orang-orang yang berada paling dekat dengan pemerintahan orde baru.
Bagamana hubungan yang semula terjalin sama-sama memiliki kuasa yang saling membutuhkan bisa berubah menjadi kuasa dan yang dikuasai, dominasi dan yang terdominasi? Hal itu terjadi karena Syam menurut pandangan Pak Rambo tidak mampu mengaktualisasikan pembangunan tembok yang tidak tembus pandang sebagaimana yang diinginkannya. Meskipun Syam dengan segala ilmu pengetahuannya, sekuat-dapat berusaha membangun tembok yang tidak tembus pandang sebagaimana diinginkan Pak Rambo. Kenyataannya sudah beberapa kali tembok yang melingkari 3 hektar tanah untuk membatasi rumah dan perkarangan Pak Rambo mengalami bongkar pasang, namun belum memenuhi keinginan Pak Rambo. Pak Rambo pun memberikan kesempatan terakhir pada Syam untuk mengerjakan tembok pekarangan rumahnya dengan nada ancaman. Syam teringat dongeng berikut ini;
e.
“Dahulu kala, demikian kisah si empunya cerita, memang ada seorang raja yang setiap hari merasa amat berbahagia karena melihat rakyatnya sangat sejahtera, padahal yang dilihatnya adalah tembok tebal dengan lukisan-lukisan kesejahteraan dunia disekeliling istana. Lukisan-lukisan yang tentulah sangat luar biasa hebatnya itu sengaja dibuat para menteri untuk mengelabui raja, sehingga mereka leluasa memeras rakyatnya dan korupsi…. Syam cepat-cepat membuang ingatannya (hal 142)
Ingatan atas dongeng itu membuat Syam semakin tidak berdaya sehingga Syam membuang ingatan atas dongeng itu jauh-jauh. Tapi sesungguhnya dongeng tentang tembok raja itu sudah berkecamuk dalam pikiran Syam. Bercampur aduk dengan ancaman Pak Rambo sekiranya tidak mampu mewujudkan tembok sebagaimana yang diinginkan Pak Rambo.
f.
“Tau mengapa kau kupanggil? Tanya Pak Rambo petang itu, beberapa jam setelah kepalanya sakit. Syam hanya menunduk dan yakin bahwa persoalannya pastilah mengenai tembok tersebut.
“Ayo jawab jangan menunduk seperti itu.”
“Pelan-pelan ia mengangkat muka dan berkata, “Saya Pak…”
Belum sempat ia mengakhiri kalimat itu, Pak Rambo sudah menyambarnya dengan bentakan keras.” (hal 143)
Sebagai ahli ilmu tembok, Syam tidak mempunyai kuasa apa-apa lagi dalam menghadapi Pak Rambo. Berusaha mengikuti kemauan dan di bawah ancaman Pak Rambo namun apa yang dikerjakan tetap saja tidak sesuai dan keinginan Pak Rambo. Secara psikis Syam tertekan sehingga membuatnya sakit (lihat e).
Apa sebenarnya yang terjadi sehingga semua rancangan tembok yang sudah dibangun tidak memenuhi keinginan Pak Rambo? Kedua tokoh ini ternyata berada dalam tatanan pikiran yang berbeda. Pak Rambo sebenarnya menginginkan tembok tidak tembus pandang yang sedehana saja sehingga dianya tidak melihat kemiskinan, ketidak adilan di luar tembok rumahnya. Meskipun tembok yang dibangun oleh Syam sangat megah, tapi Pak Rambo tetap bisa melihat kemiskinan dan ketidakadilan di luar rumahnya. Yang diinginkan Pak Rambo hanyalah tembok biasa sehingga tertutup pandangannya dengan lingkungannya sendiri. Sedangkan Syam berada dalam tatanan duniawi dengan kemegahan, tertipu atau sengaja ditipu oleh Pak Rambo sehingga apa yang dilakukan oleh Syam dalam membangun tembok rumah Pak Rambo tidak sesuai dengan keinginan Pak Rambo? Meskipun kemudian Syam menyadari bahwa tembok yang diinginkan Pak Rambo adalah tembok hati nurani, bukan tembok secara harfiah. Jika tembok hati nurani sudah dibangun maka serendah apapun tembok secara harfiah tidak akan menjadi sesuatu yang tembus pandang.
g.
“Aku ingin tembok rumahku sebaik-baiknya agar aku tidak melihat kemiskinan dan ketidakadilan di sekitarku. Tetapi tembok itu tidak mampu menghalangi mata nuraniku. Itulah sebabnya, tembok tersebut tembus pandang. Tetapi secara harfiah, tembok itu tetap tidak tembus pandang……” (hal 150)
Atas tekanan Pak Rambo, bagaimanapun juga Syam ingin terbebas atas tekanan Pak Rambo dan pada akhirnya Syam mengatakan:
“… Tadi malam Bapak mengatakan, sebenarnya tembok itu tidak tembus pandang. Tapi tembok yang tinggi dan setebal apapun, tidak akan mampu menutupi hati nurani untuk memandang apa-apa di sebalik tembok itu….”
“Terus, terus…!” Pak Rambo membentuk.
“ Bapak sebenarnya ingin menutup hati nurani.”
“Pukimak, anak haram jadah,” Pak Rambo mengamuk….. (hal 151)
Kebenaran perkataan Syam tentang tembok hati nurani, membuat kekuatan Pak Rambo melemah dan membiarkan Syam terbebas dari tekanannya.
“… Pak Rambo terkekeh-kekeh dan berkata lagi, Memang benar, orang sulit menurut kehendak hati nurani sekali gus membedakannya dengan nafsu. Selamat berjuang wahai nurani.” (hal 154)
Cerita Pendek Tembok Pak Rambo, telah memperlihatkan semula Syam seorang tokoh yang terdominasi, berada dalam tekanan mental dan dijajah hak kreasinya oleh Pak Rambo. Tekanan-tekanan itu terjadi hanyalah karena Pak Rambo dengan sengaja tidak memberi tau bahwa tembok yang sebenarnya yang diinginkannya pada Syam. Pikiran-pikiran Syam atas dongeng masa lalu dan sikap kekuasaan atas jabatan dan kekayaan Pak Rambo yang semena-mena menambah tekanan batin dalam kehidupan Syam. Dengan begitu tekanan mental dan dihantui oleh gambaran masa lalu yang tidak terkuasai oleh diri sendiri menjadi berimbas menjadi ketakutan baru dan tekanan psikis dalam menghadapi sesuatu yang hampir sama dengan kejadian sedang dihadapi.
Menyadari bahwa mata nurani Pak Rambo-lah yang harus ditembok maka Syam-pun menyentuh nurani Pak Rambo dengan hati nuraninya (lihat 151 dan 154). Dengan begitu Pak Rambo tersadar dengan dirinya, dan Syam terlepas dari keterjajahan, terlepas dari tersubordinasi. Syam mendapatkan kemerdekaan dan kebebasannya atas kuasaya sendiri***
Bibliografi
Ania Loomba. Kolonialisme/Pascakolonialisme (terjemahanHartono Hadikusumo, 2003.
Bryan S. Turner. Orientalisme, Posmodernisme dan Globalisme (terjemahan Eno Syafrudien, 2002.
Leela Gandhi. Teori Poskolonial Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat (terjemahan Yuwan Wahyutri & Nur Hamidah), 2007.
Taufik Ikram Jamil. Hikayat Batu-Batu, 2005.

.jpg)
.jpg)


